Sabtu Pekan Biasa XXXI, 10 November 2018

Fil 4: 10-19 + Mzm 112 + Luk 16: 9-15

 

 

Lectio

Suatu hari bersabdalah Yesus:  Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah.

 

Meditatio

Pertama, 'seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain', tegas Yesus. Mana mungkin seseorang mengabdi dua tuan memang? 'Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'. Mamon, sepertinya bukan sebatas pada kekayaan, melainkan juga pada sikap yang mengandalkan kekuatan diri, dan bahkan memaksa setiap orang menghormati dirinya. Mammon membuat seseorang berhenti di dunia ini. Mammon membuat orang menjadi serupa dengan dunia.  Mammon tidak akan menghantar seseorang kepada Allah, sebaliknya menenggelamkan setiap orang dalam nafsu dan kuasa. Mengingat kodrat yang berbeda, dan bahkan bertolak belakang, maka seorang manusia tidak dapat menyembah Allah dan mammon.

Kedua, kalau Yesus berkata: 'ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi' hendak menegaskan kepada kita semua, agar kita mampu sebatas menggunakannya, dan bukannya kita yang digunakan mereka. Kalau kita sebatas menggunakan, maka kalau diambilnya, kita tidak merasa kehilangan; walau tak dapat disangkal, kita harus selalu mempertanggungjawabkan segala yang dipercayakan kepada kita. Kitapun harus berani bersyukur, karena diijinkan menikmatinya. Janganlah kecaman Yesus terhadapa Betzaida dan Kapernaum diarahkan kepada kita, karena kita tak bertobat dan berterimakasih kepadaNya.

Ketiga, 'barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'. Kesetiaan diawali dalam aneka hal kecil dan sederhana. 'Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?'. Kesetiaan kita dalam mengelola harta menjadi tanda kerinduan kita akan harta surgawi, yang memang menuntut kesetiaan diri. Perumpamaan tentang talenta kiranya juga meneguhkan kita dalam mempertanggungjawabkan segala anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. Mereka gerah, karena sepertinya ikut tertampar dengan penyataan yang disampaikanNya. Mereka bukannya menerima, melainkan bangkit melawan.  'Kamu membenarkan diri di hadapan orang, tetapi Allah mengetahui hatimu. Sebab apa yang dikagumi manusia, dibenci oleh Allah'. Manusia tidak akan mampu bersembunyi dari Allah.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar mampu hidup sesuai dengan kehendakMu, sehingga kamipun siap selalu mengelola harta keseharian kami, dan terlebih semakin rindu mendapatkan harta surgawi. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi'. Bukankah kita hanya dititipi agar mencicipi sejenak?

Kedua, 'barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar'. Kesetiaan dimulai dengan aneka hal kecil dan sederhana.

Ketiga, 'kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon'. Keduanya bertentangan. Yang satu menyelamatkan, dan yang lain membinasakan.

 

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis

Pesta Maria mengunjungi Elizabet