Rabu Pekan Biasa II, 23 Januari 2019

Ibr 7: 1-3 + Mzm 110 + Mrk 3: 1-6

 

 

Lectio

Pada suatu kali, Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia.  Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: "Mari, berdirilah di tengah!"  Kemudian kata-Nya kepada mereka: "Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?" Tetapi mereka itu diam saja.  Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: "Ulurkanlah tanganmu!" Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu.  Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.

 

Meditatio

Pada suatu kali, Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya.  Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Perang dingin selalu terjadi antara Yesus dan kaum Farisi. Orang-orang Farisi terus-menerus mengamati-amati Yesus, walau sebaliknya Yesus tidak pernah melawan mereka. Perlawanan Yesus, kalau boleh dikatakan begitu, berisikan pengajaran tentang cinta kasih, yang menuntut anggur baru harus dimasukan dalam kantong kirbat yang baru.

Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu: 'mari, berdirilah di tengah!'. Yesus sengaja melakukan sesuatu secara demonstratif, yang tentunya tujuannya hanya ingin membuka mata hati banyak orang akan kehadiran sang Ilahi di tengah-tengah umatNya.  Kemudian kata-Nya kepada mereka: 'manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Menyembuhkan pada hari Sabat dikategorikan sebagai pelanggaran hari Sabat. Di hari Sabat, bukanlah meminta orang berdiam diri, atau berdoa terus-menerus sepanjang hari. Hari Sabat mengajak orang beristirahat, tanpa menutup mata akan penderitaan orang lain.

Tetapi mereka itu diam saja. Mereka berdiam diri, bukannya tidak tahu apa jawabannya. Mereka tak berani berkata-kata atas kebodohan hidup. Mereka itu pandai dalam kitab suci sebatas pengetahuan, dan bukan menjadikannya pedoman hidup.

 Yesus berdukacita karena kedegilan mereka, dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka.  Ia berkata kepada orang itu: 'ulurkanlah tanganmu!'. Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Yesus membuat segala-galanya indah adanya.

Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia. Inilah kejahatan hati orang-orang yang tidak mau menerima diri. Mereka tahu, kalau membuat baik dan menyelamatkan orang itulah, yang memang harus dilakukan pada hari Sabat. Ketidakberanian seseorang menerima diri sendiri akan membuat diri terluka yang tak akan mudah mengering.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau menyembuhkan orang lumpuh itu guna menunjukkan diriMu, Engkaulah sang Empunya kehidupan, Engkau mampu membuat segala-galanya baik adanya. Ajarilah kami untuk selalu berani memilih yang terbaik dalam hidup ini. Amin.

 

Contemplatio

                    'Manakah yang diperbolehkan pada hari ini, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?'. Hukum seringkali bertabrakan dengan belaskasih. Adakah yang selaras?

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Pesta Santo Stefanus Martir