Rabu Pekan Biasa II, 30 Januari 2019

Ibr 10: 11-18 + Mzm 110 + Mrk 4: 1-20

 

 

Lectio

Ketika Yesus sendirian setelah menyampaiakan perumpamaan tentanag benih yang ditaburkan, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.  Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?  Penabur itu menaburkan firman.  Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.  Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.  Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.  Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

 

Meditatio

'Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan', tegas Yesus kepada para muridNya. Dia memang secara sengaja mengajarkan segala sesuatu dengan perumpamaam, tetapi tidaklah demikian dengan para muridNya. Kenapa?   'Supaya sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun'. Mengapa Tuhan menghendaki seperti itu? Bukankah Tuhan menghendaki semua orang beroleh selamat?  Apa yang dikatakan Yesus ini sebenarnya sekedar menunjukkan ketegaran hati bangsa Israel dalam mendengarkan sabda Tuhan, sebagaimana pernah diucapkan jauh-jauh sebelumnya oleh Yesaya. Sebagian orang-orang Israel mengambil sikap untuk tidak mau menerima kehadiran sabdaNya. Mereka tidak mau tahu dengan sabdaNya. Yesus tidak mau memaksa mereka, karena hak azasi setiap orang memilih dan menentukan.   

'Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?', tambah Yesus. Kalau perumpamaan yang mudah ini saja mereka tidak mengerti bagaimana dengan aneka perumpamaan yang lain? Apakah para murid ini amat telmi?  'Penabur itu menaburkan firman', tegas Yesus mulai menerangkan perumpaanNya. Pertama, 'orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka'. Kedua, 'benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad'. Ketiga, 'dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah'.  Keempat, 'akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat'.

Kiranya yang ketiga menarik kita simak, sebab kiranya tanah yang di pinggir jalan tidaklah terjadi di di antara kita sekarang ini. Demikian juga yang kedua yang mengandaikan adanya penindasan dan penyiksaan. Sedangkan yang keempat tterjadi juga, karena banyak saudara saudari kita yang tumbuh dan berkembang dan menikmati sukacita, berkat kesetiaannya dalam bergaul dengan sabda. Namun kita ini bagaikan benih yang ditaburkan di tengah semak duri.  Aneka kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.  Mengapa? Karena kecenderungan insani kita amatlah kuat. Kepuasan dan kenyamanan diri menjadi menjadi pola kehidupan. Kesemarakan dunia semakin semarak dan mampu memalingkan banyak orang untuk tidak mencari Allah. Ada juga kemapanan hidup sepertinya menjadi ukuran dalam hidup ini. Adakah kekuatiran kita akan menambah sehasta hidup kita? (Luk 12: 25)

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, suburkanlah hidup kami ini agar kami semakin merasakan penyertaan dan kasihMu. Suburnya hidup kami juga yang akan membuat kami tumbuh, bagaikan tanah yang membiarkan sabdaMu tumbuh dan berkembang.

Yesus, segarkanlah hidup kami selalu dengan sabda dan kehendakMu. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'orang yang mendengar dan menyambut firman itu seperti benih ditaburkan di tanah yang baik lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat'. Inilah dambaan Tuhan Yesus

Kedua, masih adakah yang terlalu kuatir akan dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan insani?







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis