Senin Pekan Biasa III, 26 Januari 2016

Ibr 9: 24-28 + Mzm 98 + Mrk 3: 22-30

 

 

Lectio

Pada suatu kali ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

 

Meditatio

'Ia kerasukan Beelzebul', dan 'dengan penghulu setan Ia mengusir setan'. Itulah komentar orang-orang Farisi dari Yerusalem. Entah alasan apa mereka berkata-kata seperti itu? Apakah karena memang Yesus mampu mengusir kuasa kegelapan? Sepertinya adanya perasaan jengkel dan marah yang mewarnai komentar mereka itu.

'Bagaimana iblis dapat mengusir iblis?', tegas Yesus kepada mereka. 'Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya'. Kuasa kegelapan pun pasti mengerti pemahaman ini. Mereka pasti juga menjaga kesatuan diri, dan tidak saling melawan satu sama lain. 'Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu'. Penyataan ini hendak menegaskan, bahwa kuasa Anak Manusia lebih hebat daripada kuasa kegelapan. Kemampuan Anak Manusia mengatasi segala yang ada, sehingga Dia mampu mengalahkan kuasa kegelapam.

'Aku berkata kepadamu: sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal'. Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat. Yesus berkata demikian, karena kaum Farisi menuduh Yesus adalah kuasa kegelapan. Perlawanan terhadap Yesus, yang adalah Roh Kudus, karena memang Roh Tuhan ada padaKu (Luk 4), adalah penolakan terhadap Tuhan Allah. Seseorang tidak akan mendapatkan pengampunan, karena memang dia menolak unutk diampuni. Pengampunan mengandaikan seseorang menerima Allah. 'Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia' (Ibr 9: 28). Ketidakmauan seseorang mendapatkan pengampunan dosa berarti kemauan untuk binasa selamanya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, Engkau memanggil setiap orang untuk menikmati keselamatan, buatlah kami semakin bersemangat dalam berusaha menikmati keselamatan itu, dan merindukan pengampunan daripadaMu sendiri.

Santo Tomas Aquinas, doakanlah kami. Amin.

 

Contemplatio

'Apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal'. Menghojat Roh Kudus berarti menghojat dan menolak Allah sendiri. Bagaimana dia mendapatkan pengampunan, bila memang kasih Allah ditolaknya.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Pesta Santo Stefanus Martir