Sabtu Pekan Biasa IV, 9 Februari 2019

Ibr 13: 15-21 + Mzm 23 + Mrk 6: 30-34



Lectio

Suatu hari rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan.  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.  Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi.  Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

 

Meditatio

Suatu hari rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Berapa lama mereka pergi? Apakah memang tugas sudah selesai? Atau mereka dipanggil kembali oleh Yesus? Apakah pulangnya serentak? Tidak dikatakan. Namun sepertinya mereka dapat melakukan tugas perutusanNya dengan baik dan indah. Tidak ada cerita khusus. Tugas perutusan mereka berhasil. Lalu Ia berkata kepada mereka: 'marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!'. Yesus tidak hanya mengajak mereka untuk berkarya dalam pewartaan, tetapi memberi kesempatan kepada mereka untuk beristirahat. Dari sharing, mereka merasakan sungguh begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makan pun mereka tidak sempat.  

Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Istirahat yang tepat memang adalah di tempat yang hening, dan bukannya dengan mengumbar mata memandang dan membiarkan telinga mendengar segala keramaian dunia. Ke mana kita beristirahat? Apakah istirahat dimaksudkan hanya dengan membebaskan diri dari tugas keseharian? Atau memang kita berani menarik nafas sejenak bersama sang Pencipta yang memberi kehidupan kepada kita? Ataukah kita memang berani mengasah pedang kehidupan kita, yang membuat tetap tajam untuk menghadapi segala tugas baru? Sejauhmana kita mengartikan istirahat dalam keseharian hidup?

Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Inilah kelemahan transportasi pada saat itu, sehingga mereka mau ke mana sudah banyak diketahui orang terlebih dahulu. Tentunya terlebih-lebih karena banyak orang menaruh hati kepada Yesus bersama para muridNya.  Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. Kedatangan dan kerumunan banyak orang semakin mengundang belaskasih Tuhan Yesus terhadap umatNya. Bagaimana dengan para murid, apakah mereka tetap pergi ke tempat untuk mengasingkan diri? Atau memang membantu Yesus dalam karya pewartaanNya? Bagi Tuhan Yesus memang selalu ada waktu. Bukankah bagi Dia seribu tahun sama dengan satu hari? Tidak alasan bagi orang untuk berkata terlambat datang kepadaNya dan mengenalNya. Kapan pun kita datang, Tuhan Yesus akan siap sedia menyambut kita. Tuhan Yesus benar-benar mempunyai hati kepada kita umatNya.

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, bantulah kami agar semakin menyadari, di sela kesibukan hidup, kami perlu menyediakan waktu hening bersama Engkau. Untuk mendengarkan Engkau, sehingga kami semakin mengerti akan kehendakMu, yang selalu berbelas kasih kepada sesama. Amin

 

Contemplatio            

Pertama, 'marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!'. Istirahat bersamaNya kiranya lebih penting dan urgen.

Kedua, ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Yesus memang selalu memberi hati kepada setiap orang.          

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis