Hari Raya Santo Yusuf, 19 Maret 2019

Sam 7: 4-5 + Rom 4: 16-18 + Mat 1: 16-21

 


Lectio

Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus. Dan kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.  Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.  Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

 

Meditatio

          Tak jarang seorang perempuan yang sudah menikah, bahkan hanya bertunangan saja, dianggap milik seorang suami yang mencintainya. Tak ubahnya, dia adalah kekayaan seorang lelaki. memiliki banyak isteri menyatakan kekuatan dan kepemilikan seseorang. Apakah Yesus mengakui keberadaan dunia patriakal? Bukankah Yesus pernah mengatakan barangsiapa mau mengikuti dirinya, seseorang harus berani meninggalkan segala sesuatu, bahkan isterinya, guna mengikuti diriNya? Pandangan seperti ini melekat juga dalam diri Yusuf. Maka ketika mengetahui, bahwa Maria, calon isterinya itu, telah berbadan dua, Yusuf bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Predikat sebagai seorang laki-laki yang tulus hati, tidak mampu mengalahkan tantangan budaya. Keputusan Yusuf adalah sebuah reaksi.

'Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'. Jaminan inilah yang membuat Yusuf berani mengambil keputusan menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan impian diri. Yusuf menjadu pemberani, karena pengenalan akan sabda dan kehendak Tuhan. Pikiran yang tidak mampu menguasai sabda dan kehendak Allah, bukannya berusaha meninggalkan, malah berbalik mengikutiNya.  

Apakah Yusuf sebelumnya tidak pernah membaca kitab suci, bahwa seorang Anak Manusia akan dilahirkan di Betlehem, dan Dia adalah keturunan dari raja Daud? 'Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya' (2Sam 7: 16). Apakah tidak pernah terpikir, bahwa dalam dirinya akan tersalurkan rahmat Roh kudus yang melanjutkan takhta Daud bapa leluhurnya?

Yusuf, selain seorang yang tulus hati, adalah seorang beriman. Beriman setara dengan Abraham, yang 'sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun ia berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa' (Rom 4: 17). Tantangan iman seperti Yusuf dan Abraham akan selalu dialami oleh banyak orang, khususnya kaum laki-laki, yang mengedepankan ratio. Namun iman benar-benar membuat hidup indah adanya.

 

Oratio

Ya Yesus, teguhkanlah iman kami kepadaMu, agar semakin hari semakin tekun merenungkan sabdaMu dan berani melakukan kehendakMu. Ajari kami untuk mengedepankan Engkau dala kehidupan sehari-hari.

Santo Yusuf, doakanlah kami. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka'. Kita harus beranai mengambil keputusan untuk hidup lebih baik.

Kedua, 'sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun ia berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa'. Iman membuat hidup semakin hidup.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Pesta Santo Stefanus Martir