Malam Paskah, Malam Tirakatan Yesus yang bangkit dari alam maut, 20 April 2019

Kej 1: 1-31 + Rom 6: 3-11 + Luk 24: 1-12

 

 

Lectio

Pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.  Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu, dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus.  Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan.  Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga."  Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.  Dan setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain.  Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus. Dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul.  Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.  Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.

 

 


Meditatio

Pada pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka. Mereka itu sepertinya beberapa perempuan yang setia sampai di bawah salib. Siapa yang hendak membuka batu penutup kubur? Tidak terpikir mereka sepertinya. Namun syukurlah, mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu. Entah siapa yang membukanya. Ada sesuatu yang pasti perlu dipertanyakan, tetapi mereka berdiam diri. Mereka tidak mempersoalkan, sebagaimana ditulis dalam Injil lain. Setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus. Apakah mereka bertanya-tanya tentang tergulingnya batu? Apa mereka lihat sebatas keberuntungan, bahwasannya batu sudah tidak menutupi kubur lagi? Namun tak dapat disangkal, mereka tersentak juga bahwasannya jenazah Yesus tidak mereka temukan.

Sementara mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan. Pasti mereka kaget.  Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala. Ada yang menggetarkan dan mentakjubkan, itulah yang membuat mereka tidak berdaya. Kemuliaan surgawi mendapati mereka. Mereka benar-benar sebagai orang tak berdaya. Sekali lagi, mereka hanya berdiam diri, tak berdaya. Tetapi kedua orang itu berkata kepada mereka: 'mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga'. Yesus tidak ada lagi di dalam kubur. Dia tidak kalah dan dimatikan. Dia malahan rela menyerahkan nyawaNya demi keselamatan umat manusia. Ia hidup. Dia telah turun ke alam maut, dan bangkit dari sana.

Seharusnya mereka tidak boleh kaget dan bingung, karena memang sudah jauh-jauh disampaikanNya sendiri. Dia akan didera dan disalibkan, tetapi pada hari ketiga akan bangkit. Namun sungguh, karena sapaan malaikat itu, teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu. Perempuan-perempuan itu sungguh-sungguh baru sadar akan peristiwa yang mereka alami sekarang ini. Dia tidak ada di dalam kubur, karena Dia harus bangkit dari alam maut untuk menyelamatkan umat manusia dari kuasa dosa.

Setelah mereka kembali dari kubur, mereka menceriterakan semuanya itu kepada kesebelas murid dan kepada semua saudara yang lain. Sepertinya mereka telah membentuk sebuah komunitas baru, yang lebih dari kesebelas rasul selama ini, dan siapa mereka tidak disebutkan. Mereka pun tidak berlari ke makam, sebagaimana diceritakan Injil lain.  Perempuan-perempuan itu ialah Maria dari Magdala, dan Yohana, dan Maria ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain juga yang bersama-sama dengan mereka memberitahukannya kepada rasul-rasul. Para perempuan adalah orang pertama yang mendapatkan pesan kebangkitan dalam kemuliaan surgawi. Mereka memang tidak mendapatkan kedudukan istimewa dalam jajaran para rasul. Maria sang bunda pun tidak mendapatkan kesempatan pertama. Namun mereka adalah saksi-saksi pertama kebangkitan, dan menerima kemuliaan surgawi.

Hanya saja, bagi mereka, para murid, orang-orang terpilih, kaum laki-laki, perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu. Percaya akan kebenaran, terlebih bila disampaikan oleh orang kecil dan tersisih, amat sulit diterima. Inilah juga kelemahan kita orang-orang Katolik. Orang merasa lebih mudah mendengarkan orang-orang yang punya nama, walau tanpa isi, daripada mendengarkan sesama. orang begitu mudah memandang muka. Apa yang kamu lakukan untuk saudaraKu yang hina ini, kamu telah melakukannya bagiKu. Kiranya sabda ini juga menjadi spiritualitas hidup kita dalam mendengarkan sesama.

Kubur kosong bukan menjadi saksi kebangkitan, tetapi sebagaimana dikatakan Yesus, bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga, semuanya sungguh benar. Sungguhpun demikian Petrus bangun, lalu cepat-cepat pergi ke kubur itu. Ketika ia menjenguk ke dalam, ia melihat hanya kain kapan saja. Apakah Petrus hanya mengedepankan 'apa yang dipikirkan manusia' (Mat 16: 23), dengan kepergiannya ke kubur itu? Lalu ia pergi, dan ia bertanya dalam hatinya apa yang kiranya telah terjadi.  

Kita bukanlah Petrus ataupun perempuan-perempuan yang pergi ke kubur. Namun kita bersyukur kepadaNya, karena 'kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.  Sebagaimana kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, maka sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya' (Rom 6: 3-5).

 

Oratio

Ya Yesus, berkat wafat dan kebangkitanMu, kami yang telah dibaptis dalam Kristus, ikut dibangkitkan dalam kemuliaan Bapa, dan mengalami hidup baru serta semakin berani menjadi saksi kebangkitanMu. Amin

 

Contemplatio

Pertama, 'mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?  Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit'. Kita lemah dalam mendengarkan orang lain.

Kedua, 'Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga'. Inilah spiritualitas hidup.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Pesta Santo Stefanus Martir