Selasa Paskah III, 7 Mei 2019

Kis 7: 51-60 + Mzm 31 + Yoh 6: 30-35

 

 

Lectio

Para murid melanjutkan perbincangan dengan Yesus. Kata mereka: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga."  Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa."  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.


Meditatio

Para murid melanjutkan perbincangan dengan Yesus. Kata mereka: 'tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan?  Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: mereka diberi-Nya makan roti dari sorga'.  Percaya kepada Yesus? Bagaimana mungkin harus percaya kepadaNya? Apakah yang telah dibuatNya selama ini? Kami mempunyai Allah yang mampu membuat sesuatu yang indah, sebagaimana dinikmati oleh bangsa Israel ketika keluar dari Mesir.

'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga.  Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia', tegas Yesus. Entah kenapa Yesus mengkaitkan pemberian roti itu dengan Musa. Bukankah mereka juga sadar, bahwa para nenek moyang Israel diberi-Nya makan roti dari sorga. Mereka tahu, bahwa yang memberi roti itu adalah Tuhan Allah, dan bukannya Musa. Sepertinya Yesus hanya menekankan, bahwa Roti yang diberikan oleh Bapa itu bersifat abadi dan kekal.

'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa', pinta para murid yang semakin tertarik dengan pemberianNya itu.  Kata Yesus kepada mereka: 'Akulah Roti Hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Makan Roti yang diberikan Allah adalah menikmati kehadiran Yesus Kristus, karena memang Dialah Roti Hidup yang turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia. Menikmati Yesus berarti datang kepadaNya, berjumpa denganNya, mendengarkan sabdakanNya, dan bahkan makan bersama-sama dengan Dia. Percaya kepadaNya memberi kehidupan abadi, tak perlu lagi minum lagi, karena memang daripadaNyalah keluar air kehidupan. Dialah Air kehidupan. Air inilah yang membuat Stefanus tidak merasa haus dalam menghadapi aneka tantangan hidup (Kis 7).

 

Oratio

Ya Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMu, dalam setiap Ekaristi kami boleh menyambut TubuhMu sendiri, yang memberikan kehidupan dan kekuatan bagi kami. Kiranya kami semakin disadarkan dalam menikmati kehadiranMu itu. Amin

 

 

Contemplatio

Pertama, 'Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa'. Kerinduan inilah yang hendaknya menjiwai kita.

Kedua, 'Akulah Roti Hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi'. Yesus memberi kepastian dan jaminan, baiklah kalau kita menikmatiNya.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Pesta Santo Stefanus Martir