Minggu Pekan Biasa XXVII, 13 Oktober 2019

2Raj 5: 14-17 + 2Tim 2: 8-14 + Luk 17: 11-19

 

 

Lectio

Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" Lalu Ia memandang mereka dan berkata: "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Lalu Ia berkata kepada orang itu: "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau."

Meditatio

'Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam', kata Yesus yang tahu akan kebutuhan umatNya, orang-orang yang dikasihiNya. Tentunya mereka akan disembuhkan. Itulah keyakinan dan harapan mereka setelah  berseru-seru 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!'. Mereka pasti sudah merasakan akan disembuhkan, sehingga mereka harus memberitahukan  kepada para imam. Bukankah mereka yang harus memberi label sembuh? Bukankah kepada mereka persembahan ucapan syukur harus dilambungkan? 

Sungguh benar. Di tengah jalan mereka semua menjadi sembuh. Mereka semua bangga dan bersukacita memuji Allah. Semakin bersemangatlah mereka lari kepada para imam, sebagaimana diminta sang Guru. Namun mengapa harus bersama mereka? Bukankah Dia sang Guru itu yang menyembuhkan? Bukankah Dia adalah Mesias, Kristus Putera Allah yang hidup? Bukankah hanya kepada Tuhan Allah, sang Empunya kehidupan, seorang manusia harus bersyukur? Berbaliklah seorang dari kesepuluh orang yang tersembuhkan itu kepada sang Guru, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang Samaria ini tahu siapakah yang telah memberi kesembuhan. Dia tahu yang terbaik, yakni apakah dia harus bersyukur dan berterima kasih atau harus melapor.

Yesus sendiri menghendaki agar orang harus berani bersyukur daripada melaporkan diri. Karena itu, Dia bertanya: 'bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?'.  Naaman pun, seorang yang tidak beriman, mampu mengucap syukur kepada Tuhan Allah yang tidak dikenalnya itu (2Raj 5: 14-17). Yesus menghendaki agar setiap orang harus berani memilih yang terbaik yang mendatangkan keselamatan, dan itulah yang dibenarkanNya, maka Dia berkata: 'berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Paulus pun berani memilih yang terbaik, walau semua itu harus dijalaninya dengan derita, yang semuanya dilakukan bukan demi diri sendiri tetapi juga bagi banyak orang. 'Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal' (2Tim 2: 9-10).


Oratio

Ya Tuhan Yesus, ajarilah kami selalu berani bersyukur kepadaMu atas segala kelimpahan berkat yang Engkau berikan kepada kami. Kami yakin, bahwa hanya Engkaulah yang mampu memberikan segala yang baik bagi kami. Amin. 


Contemplatio

Pertama, 'bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?'.  Yesus menghendakai agar kita berani bersyukur kepadaNya.

Kedua, 'berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau'. Memilih yang terbaik mendatangkan keselamatan.








Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Selasa XXX, 26 Oktober 2010