Senin Pekan Biasa XXVII, 7 Oktober 2019

Yun 1: 1-7 + Mzm + Luk 10: 25-37

 

 

Lectio

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

 

Meditatio

Seorang ahli Taurat yang mencobai Yesus terjebak oleh kata-katanya sendiri. Dia bertanya 'Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal' dan dia bisa sendiri menjawab 'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Maka jawab Yesus kepadanya: 'jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup'. Seseorang benar-benar menikmati hidupnya, bila memang dia menaruh hati kepada Tuhan dan sesama.

Namun siapakah sesama itu? Sesama bukanlah mereka yang membutuhkan bantuan kita, bukaan pula mereka yang lemah, melainkan yang mampu menunjukkan belaskasihan. Mengasihi sesama itu bagaimana seseorang mengungkapkan belaskasih terhadap orang lain. Tekanan Yesus adalah apa yang dapat kita lakukan kepada orang lain, dan bukannya sekedar memandang orang yang bukan kita.

Peristiwa Yunus (1: 1-17) menunjukkan, bahwa dia tidak mampu menjadi sesama bagi orang lain. Yunus membuat orang lain celaka. Yunus mencari kenyamanan diri. Namun Tuhan tetap menghendaki Yunus untuk menyampaikan kehendakNya dengan membuangnya ke laut. Tuhan Allah memakai Yunus, bukan karena jasa dan kebaikan Yunus, melainkan karena belaskasihNya sendiri.

 

Oratio

            Ya Tuhan Yesus, hanya belaskasihMu yang menyelamatkan umat manusia. Engkau juga mengajak kami untuk berani berbagi belaskasih guna menikmati keselamatanMu. Teguhkanlah kami untuk menjadi sesama bagi orang lain, sebagaimana orang Samaria yang baik hati itu. Amin.

 

Contemplatio

Pertama,'kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri'. Inilah satu-satunya cara masuk dalam Kerajaan Surga.

Kedua, kita adalah sesama bagi orang lain, bila mampu menunjukkan belaskasihan. Mengasihi sesama adalah sikap dan karya hidup.

 

 

 




Oremus Inter Nos, mari kita saling mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Selasa XXX, 26 Oktober 2010