Rabu Pekan Biasa XXXI, 6 November 2019

Rom 13: 8-10 + Mzm 112 + Luk 14: 25-33

 

 

Lectio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.

 

Mediatatio

Setiap orang harus berani menomersatukan Yesus dari segala-galanya. Begitulah makna penyataan Yesus yang hiperbolis ini, yakni: 'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Apalah artinya mendahulukan segala-galanya, kalau tidak menempatkan Yesus pada barisan pertama dan utama dalam karya hidup ini. Bukankah Dia yang menjadi jaminan keselamatan kita. Tanpa mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar kita, hendaknya kita selalu menaruh perhatian utma hanya pada Tuhan sang Empunya kehidupan. Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma mengajak kita semua tetap berpegang pada hokum cinta kasih.

Itupun harus dikerjakan dengan segenap hati, dan bukan asal-asalan semampu kita. Sebab 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Setiap orang harus berani berjuang dan berjuang dalam mengejar keselamatan ini.

 

Oratio

Ya Tuhan Yesus, Engkau kekuatan hidup kami. Bekalilah kami dengan kasihMu, agar kami mampu menghadapi segala kenyataan hidup ini dengan penuh syukur. Semoga kami berani mengutamakan Engkau dalam segala perkataan dan pelayanan kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Yesuslah yang utama dalam hidup kita ini.

Kedua, 'barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Setiap orang harus berjuang dan berjung menikmati keselamatan.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Hari Raya Pentakosta

Selasa XXX, 26 Oktober 2010