Minggu I Prapaskah, 1 Maret 2020

Kej 2: 7-9 + Rm 5: 12-19 + Mat 4: 1-11

 

 

Lectio

Suatu kali Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis. Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti." Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu." Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!" Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.

 

Meditatio

Yesus Tuhan, Mesias, Allah yang menjadi manusia, Anak Manusia diganggu dan dicobai iblis? Itulah kenyataan hidup manusia. Yesus memang benar-benar mengalami hidup konkrit sama seperti kita manusia. Manusia yang mengalami aneka cobaan, demikianlah Yesus, Anak Mansia.

Soal makanan, bahwa 'manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah'. Yesus tidak mengingkari hidup manusia yang membutuhkan makan, sandang dan papan. Namun manusia yang diciptakan Tuhan sesuai dengan gambarNya, juga membutuhkan santapan daripadaNya langsung, yakni setiap firman yang keluar dari mulut Allah.

Soal akal budi, bahwa iman kepercayaan tidak boleh mengabaikan kemampuan akal budi. Menghormati kemampuan insani berarti menghargai sang Pencipta sendiri. 'Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!'. Penegasan Yesus ini terlontar, karena banyak orang yang melemparkan kemampuan diri kepada Allah. Dia melemparkan, karena ingin bermalas-malasan diri dan bahkan menguji belaskasih Allah. Bukankah Allah mengasihi kita, Dia pasti mengabulkan permohonan kita.

Soal kuasa, bahwa kuasa tertinggi hanya pada Allah, sang Empunya kehidupan. Mungkin ada kuasa yang menyerupai kuasaNya, bahkan ada juga yang baik dimakan, dan nikmat dilihat (Kej3), tetapi semuanya itu hanya fana. Kuasa dan keabadian hanya pada Allah, dan tiada yang lain. 'Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'. Kalau memang menghendaki keselamatan, hanya Allahlah yang harus dipilih.

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau memberi kebebasan dan kemerdekaan kepada kami untuk melakukan segala hal. Kami tetap mohon bantuan rahmat dan kasihMu, agar kami tetap berani memiih yang terbaik dalam hidup dan mendatangkan keselamatan. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah'. Hidup rohani hendaknya mendapatkan perhatian.

Kedua, 'janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!'. Tak perlu menguji kuasa Allah, karena Allah menyertai kita.

Ketiga, 'Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!'. Kalau memanag menghendaki keselamatan, hanya Allahlah yang harus dipilih.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Pentakosta