Selasa Pekan Biasa VI, 18 Februari 2020

Yak 1: 12-18 + Mzm 94 + Mrk 8: 14-21

 

 

Lectio

Pada waktu menyeberang ternyata murid-murid Yesus lupa membawa roti, hanya sebuah saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, kata-Nya: "Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes." Maka mereka berpikir-pikir dan seorang berkata kepada yang lain: "Itu dikatakan-Nya karena kita tidak mempunyai roti." Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Dua belas bakul." "Dan pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?" Jawab mereka: "Tujuh bakul." Lalu kata-Nya kepada mereka: "Masihkah kamu belum mengerti?"

 

Meditatio

Mendengar itu dengan telinga, tetapi mendengarkan itu dengan hati. Sebab mendengarkan kita harus berani menaruh hati. Kalua Yesus sampai berkata: 'mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu faham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?', karena para muird hanya mengandalkan kekuatan inderawi. Yesus berkata-kata demikian, karena para murid tidak mau melihat dan mendengar dengan hati. Menikmati hidup tidak cukup hanya dengan menggunakan segala yang inderawi. Kedua peristiwa pergandaan roti seharusnya membuat para murid mengerti, bahwasannya Yesus mampu segala-galanya bisa terjadi dan dan baik adanya. Atau apakah karena dua kali berurut-turut, maka pikiran mereka hanya sebatas pada Yesus sang Pemberi rejeki?

'Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes'. Yesus berkata dalam bahasa kiasan memang, tapi tidak ditangkap oleh para muridNya. Adakah kita juga sering menggunakan bahasa halus, sehingga tidak ditangkap juga oleh sesame kita?

 

Oratio

Yesus Kristus Tuhan kami, kami bersyukur kepadaMu karena Engkau selalau memperhatikan kami. Ajarilah selalu juga menaruh perhatian kepadaMu dan sesame, sehingga pada akhirnya kami tidak berpusat diri selalu. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?'. Bersyukurlah selalu, karena kita daapat melihat dan mendengar.

Kedua, 'berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes'. Yesus selalu berkata-kata dengan hati.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017