Minggu IV Pekan Prapaskah, 22 Maret 2020

1Sam 16: 1-7 + Ef 5: 8-14 + Yoh 9: 9-14

 

 

Lectio

Pada waktu itu tetangga-tetangga orang yang tadinya buta menjadi bingung. Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi pun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka. Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi."

 

Meditatio

'Ia adalah seorang nabi'. Inilah kata-kata iman yang keluar dari mulut seseorang yang dahulu buta. Ia berkata-kata seperti itu, karena dia menikmati sungguh segala yang diterimanya. Dia merasa telah menerima sesuatu yang indah, maka dia berani mengakui bahwa Yesus benar-benar seorang nabi, walau ada ancaman 'barangsiapa mengakui Yesus sebagai Mesias, akan dikucilkan'. Iman seseorang memang akan tumbuh dan berkembang, bila dia mau menikmati segala yang baik dan indah yang diterima dalam hidupnya. Dia tidak takut terhadap siapapun, karena yakin Tuhan Yesus mendampingi dirinya. Dia sang Empunya kehidupan.

Orang-orang Farisi sulit mengakui bahwa orang buta itu dapat melihat. Bukankah dia itu pengemis? Bukankah dia itu orang berdosa? Ternyata orang berdosa pun dapat dan mampu menerima aneka anugerahNya, dan orang buta ini telah membuktikannya. Dia tidak meminta dan meminta, tetapi dia tiba-tiba menerima daripadaNya. Sampai-sampai dia menjawab aku tidak tahu  siapa yang memberi kesembuhan. Kita diajak untuk berani menerima kenyataan hidup yang seringkali berlawanan dengan kemauan kita. Janganlah kita memandang muka dan menilai orang lain semau kita, pandanglah hati seperti Tuhan sendiri (1Sam).

 

Oratio

Yesus Kristus, kami bersyukur kepadaMU atas segala yang baik dan indah yang boleh kami nikmati dalam setiap lagkah hidup ini. Semoga kami selalu bersyukur kepadaMu. Amin.

 

Contemplatio

'Ia adalah seorang nabi'. 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Hari Raya Pentakosta