Jumat Pekan Biasa XIX, 14 Agustus 2020

Yeh 16: 1-15 + Mzm + Mat 19: 3-12

 

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."

 

Meditatio

'Allah yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan', tegas Yesus kepada orang-orang Farisi, yang datang hanya ingin mencobai Yesus. Allah yang mempunyai dan berkuasa atas manusia, ciptaanNya. 'Laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu'. Inilah kehendak Allah, dan Allah sendiri hyang menyatukan. Penyatuan inilah perkawinan. Perkawinan itu berarti satu laki-laki dan satu perempuan. Perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan, harus berbeda jenis. Keberadaan seorang isteri mengandaikan adanya seorang suami. 'Yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Perceraian adalah perlawanan terhadap kehendak Allah.

Keberpihakan Musa pada kemauan orang-orang Israel, dengan mengijikan laki-laki menceraikan isterinya apakah termasuk dosa?

Apakah semua orang harus menyatuan diri dalam perkawinan? 'Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya'. Ini adalah keterbatasan insani, yang tidak dapat diganggu gugat. Faktor biologis, asupan makanan dan udara mampu membatasi gerak seorang manusia.  'Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain'. Ini adalah kejahatan sexual, yang merendahkan martabat dan hak azasi manusia. 'Ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga'. Ini adalah kebajikan diri yang dipersembahkan kepada Tuhan.

Apakah ketakutan untuk menikah, dan ketidak-mau-tahu-an akan pernikahan adalah sebuah dosa, sebagaimana dikatakan para murid tadi, 'jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin?'

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau menyatukan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan. Semoga kasihMu yang Engkau tampakkan dalam diri mereka semakin dirasakan dalam keseharian mereka, dan semoga kasihMu juga mereka tampakkan bagi anak-anak mereka. Berkatilah keluarga-keluarga muda kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu'. Inilah kehendak Allah, dan Allah sendiri hyang menyatukan.

Kedua, 'yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia'. Perceraian adalah perlawanan terhadap kehendak Allah.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017