Kamis Pekan Biasa XIX, 13 Agustus 2020

Yeh 12: 1-12 + Mzm 78 + Mat 18: 21-35

 

 

Lectio

Pada waktu itu b datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

 

Meditatio

Kita harus berani memafkan dan mengampuni kesalahan sesame. 'Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali', tegas Yesus kepada para muridNya. Mengapa? Seperti dalam perumpamaan, karena kita telah menerima banyak anugerah dan kasihNya, terlebih kita yang hidup pasca-kebangkitanNya. Kita adalah orang-orang yang tahu berterimakasih, kalau memang mau berbagi apa yag telah kita terima. Rahmat kebangkitan bisa-bisa dicabut oleh Allah, kalau memang kita enggan memafkan kesalahan sesame, atau malah menyimpannya menjadi dendam. Ampunilah dosa kami, seperti kami pin mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Doa Bapa Kami yang sudah di luar kepala, tentunya lebih jauh lagi dari hati.

Memaafkan terasa amat sulit, bila memang kata-kata dan perilaku sesame menyakitkan diri kita. Terhadap da yang tidak mau diingatkan, bahkan 'tidak mau juga mendengarkan jemaat', bagaimana kami mau memaafkan dan mengampuninya? Hanya dalam spiritualitas kristiani, kita dapat memahami kenyataan ini. Sebagaimana Kristus telah memanggul salib dan menjadi tebusan dosa bagi banyak orang, demikianlah kita harus melengkapinya menjadi tebusan bagi seluruh umat manusia.

 

Oratio

Yesus Kristus, kami merasa berat memaafkan kesalahan sesame, kami alah mudah mendedam dan memusuhinya. Ajarilah kami dan ingatkan kami, agar kami berani memaafkan, sebagaimanna yang Engkau lakukan sendiri kepada kami. Amin.

 

Contemplatio

'Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali'. Kita harus menjadi orang yang murah hati.







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017

Mengenal Karmelit Awam dari dekat (2)