Selasa Pekan Biasa XVIII, 4 Agustus 2020

Yer 30: 1-2 + Mzm 102 + Mat 15: 1-2.10-14

 

 

Lectio

Pada waktu itu datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: "Mengapa murid-murid-Mu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan." Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka: "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang." Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?" Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."

 

Meditatio

Najis itu kotor. Menajiskan itu mengotorkan, membuat kotor. Yang menajiskan orang berarti yang membuat orang kotor, cemar, bahkan mungkin berdosa. Yang masuk ke dalam mulut tidaklah membuat seseorang kotor, mungkin hanya membuat orang sakit, karena tidak tahan antibodinya. Tentunyaa yang masuk dalam mulut seseorang adalah air dan aneka makanan. Orang yang sakit, karena makanan, bukanlah orang kotor. Ada banyak ofrang sakit, tetapi begitu suci hatinya. Sebaliknya, yang keluar dari mulut itulah yang menajiskan seseorang. 'Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang', disampaikan Yesus kepada kita hari ini.

Yang keluar dari mulut seseorang adalah kata-kata dan ucapan. Kata-kata jorok dan kasar itulah yang membuat diri orang kotor, baik di hadapan Tuhan dan ataupun sesamanya. Kejahatan dan kelicikan, kesombongan dan kebebalan, kebaikan dan kesopanan, kejujuran dan ketulusan seseorang seringkali tampak dalam kata-kata yang terlontar dari mulut seseorang. Tidak semua yang keluar dari mulut orang itu baik, dan juga tidak semua yang keluar dari mulut kotor. Yesus hanya ingin menegaskan, bahwa kejahatan dan dosa yang menajiskan orang itu berasal dalam diri sendiri.

'Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?', kata murid Yesus. Mengapa? Minimal, pertama, karena pengajaran Yesus meluruskan segala praktek religious selama ini, seperti penghormatan hari Sabat dan makna kurban. Kedua, pengajaran Yesus mengingatkan betapa indahnya pengajaran cinta kasih yang sudah lama didengung-dengungkan dalam Pkioerjanjian Lama. Hukum cinta kasihlah yang kembali ditegakkan Yesus. Tuhan Allah tidak pernah mengajarkan tentang kejahatan; tanaman kejahatan pasti akan dicabut sampai ke akar-akarnya; dan ketidak-mauan seseorang mengajarkan cinta kasih, tak ubahnya orang buta menuntun orang buta.

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau selalu mengajarkan kebaikan dan cinta kasih, yang seringkali berlawanan dengan kenyataan dunia yang mengutamakan kepuasan diri. Ajarilah kami, agar hukum cinta kasih menjadi bekal dan arahan hidup keseharian kami.

Santo Maria Vianney, doakanlah kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang'. Dari dalam pikiran dan hati manusia timbullah kejahatan.

Kedua, 'setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya'. Allah hanya menaburkan benih-benih keselamatan.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017