Kamis Pekan Biasa XXII, 3 September 2020

1Kor 3: 18-23 + Mzm 24 + Luk 5: 33-39

 

 

Lectio

Pada waktu itu orang-orang Farisi berkata pula kepada Yesus: "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Jawab Yesus kepada mereka: "Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: "Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu. Demikian juga tidak seorang pun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorang pun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik."

 

Meditatio

Berpuasa adalah usaha pengudusan diri dalam tradisi Gereja Katolik. Puasa kita lakukan hanya demi Tuhan kita Yesus. Puasa bukan demi kepentingan diri. Puasa kita persembahkan kepada Tuhan Allah. Karena kita persembahkan kepada Tuhan sang Empunya kehidupan, maka puasa adalah pengudusan diri.

Kalau Yesus berkata: 'dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa', hendak menegaskan bahwa puasa bukanlah soal waktu atau predikat diri. Saya berpuasa, maka saya tidak boleh memaksa orang lain berpuasa bersama saya.  Bagaimana sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka?  Apakah sang mempelai harus berpuasa, karena saya sahabat mempelai lagi berpuasa? Para sahabatlah yang harus mengikuti kondisi pesta sang mempelai. Kristus Tuhan adalah sang Mempelai, dan kita sahabat-sahabatNya. Berpuasa bukan untuk kepentingan diri sendiri, melainkan suatu persembahan kepada Tuhan. Dan dalam tradisi Gereja, kita diajak berpuasa dan berpantang ketika masa Prapaskah, yang menggambarkan saat-saat menyambut Yesus yang hendak meminum cawan yang harus diminumNya. Maka dalam masa Prapaskah pantaskah kita mengikuti, bahkan mengadakan pesta-pesta yang tidak sesuai dengan Sahabat kita? Kita pun diajak berpuasa, bila memang kita merasa telah jauh dari Tuhan Yesus. Bukankah kita milik Kristus (1Kor 3).

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkaulah sang Mempelai dan kami sahabat-sahabatMu. Karena memang Engkau menyatakan kepada kami segala yang Engkau dengar dari Bapa. Semoga kami menikmati persahabatan bersamaMu, dan menjauhkandiri dari segala yang merintangi persabatan kita.

Santo Gregorius, doakanlah kami. Amin.

 

 

Contemplatio

'Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa'.  

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017

Hari Raya Maria mendapat Kabar Sukacita