Rabu Pekan Biasa XXIII, 9 September 2020

1Kor 7: 25-31 + Mzm 45 + Luk 6: 20-26

 

 

Lectio

Suatu hari Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

 

Meditatio

 Yesus memuji bahagia orang-orang yang miskin, lapar, dan menangis, yang dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak. Mereka diminta berbahagia selalu, karena merekalah empunya Kerajaan Allah, dan mereka akan dipuaskan. Karena pengalaman pahit, para murid disamakan dengan para nabi. Mereka dipuji bahagia, karena memang merekalah empunya Kerajaan Allah. Mereka benar-benar orang yang dipilih dan beroleh jaminan pasti menikmati kebahagiaan surgawi. Penyataan ini bukannya Yesus tidak mau tahu akan kondisi sekarang ini; Yesus sendiri mengalami derita dan sengsara yang lebih hebat. Penegasan Yesus sekaligus mengingatkan mereka, bahwa walau setia mengikutiNya, mereka tidak bebas dari aneka tantangan dan halangan hidup. Yesus meminta mereka semua untuk tetap setia mempunyai pengharapan. Penghargaan setinggi-tingginya diberikan kepada mereka yang telah berjuang dalam pengharapan. Yesus meneguhkan kebenaran para pemazmur: 'orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mzm 126).

Sebaliknya, Yesus mengecam keras orang-orang yang kaya, kenyang, dan tertawa. Mereka akan mengalami sengsara, lapar dan tangis. Apakah memang para murid, termasuk kita, tidak boleh menjadi orang kaya, tidak boleh kenyang dan tertawa? Mengapa kita malah disamakan dengan nabi-nabi palsu?  Yesus tentunya tidak sekedar mengecam dan mengecam. Yesus mengetahui segala yang telah dilakukan umatNya. Apa kita, yang tidak merasa kesulitan mendapatkan segala sesuatu karena banyak harta, kita yang hidup mapan dan mudah berfoya-foya ini, masih mudah ingat akan mereka yang menderita? Ingatkah kita, bahwa segala keindahan dan kenyamanan ini adalah pemberian dari Tuhan Allah? Pernah kita bersyukur? Pernah kita berbagi? Kalau kita menikmati segala yang indah dan menyenangkan ini dengan penuh rasa syukur yang mendalam, pastilah kecaman itu tidak diarahkan kepada kita. Kecaman pasti disampaikan kepada mereka yang tidak pernah bersyukur kepada Tuhan dan berbagi kepada sesame.

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau memuji bahagia orang-orang yang selalu mengandalkan Engkau, orang-orang yang penuh harapan baik, walau hidupnya sekarang ini penuh tantangan. Engkau memberi jaminan, bahwa mereka adalah orang-orang empunya Kerajaan Allah. Bantulah selalu, agar kami setia dalam keterpilihanMu itu dengan melakukan segala kehendakMu yang menyelamatkaan. Amin.

 

Contemplatio

Berbahagia orang-orang yang miskin, lapar, dan menangis, yang dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak, karena namaNya, sebab merekalah empunya Kerajaan Allah, dan mereka akan dipuaskan.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Selasa XXX, 26 Oktober 2010

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017