Rabu Pekan Biasa XXXI, 4 November 2020

Fil 2: 12-18 + Mzm 27 + Luk 14: 25-33

 

 

Lectio

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka: "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya. Atau, raja manakah yang kalau mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan, apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku".

 

Meditatio

Mengikuti Yesus. Sebuah rumusan yang singkat dan padat. Mengikuti Yesus berarti tidak mengikuti lainnya. Tidak ada kesempatan mendua hati. Maka 'setiap orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku', tegas Yesus dalam pengajaranNya kepada para muridNya. Bahkan, 'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, juga nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Apakah keluarga dianggap sebagai harta milik? Bukan. Harta milik saja harus kita tinggalkan, apalagi keluarga yang seringkali mengikat kita.

Kata-kata Yesus amat keras memang, bahkan hiperbolik. Bagaimana kita harus membenci keluarga dan diri sendiri? Yesus pun malah pernah juga mengingatkan biarkanlah orang mati mengubur orang mati. Keluarga dan segala urusannya memang mampu menjauhkan kita dari Tuhan Yesus yang menyelamatkan. Alasan mengurus keluarga seringkali kita perdengarkan ketika kita malas berdoa, enggan memperhatikan sesame dan tidak mau tahu akan alam ciptaan lainnya. Sebaliknya, kalau kita benar-benar mencintai Tuhan Yesus, bahkan memikul salib dan mengikut Aku, tegas Yesus, kita akan mengalami kehadiranNya dalam diri sesame dan ciptaan.

Siap sediakah kita mengutamakan Kristus Yesus? Kita renungkan selalu, seperti orang yang hendak mendirikan menara atapun seperti seorang raja yang hendak melawan raja lain. Hendaknya kita selalu berdamai dengan Allah.

 

Oratio

Yesus Kristus, mengikuti pengajaranMu memang amatlah sulit dan begitu menantang. Engkau memang menghendaki kami mengutamakan engkau dalam segala karya dan perhatian kami. Semoga hidup kami selalu terarah kepadaMu.

Santo Karolus, doakanlah kami. Amin.

 

Contemplatio

Pertama, 'setiap orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku'.  Yesus segala-galanya.

Kedua, 'jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, juga nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku'. Kumau cinta Yesus selamanya.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Jumat Agung, Hari Kematian Tuhan Yesus Kristus, 14 April 2017

Pesta Santo Simon dan Yudas, 28 Oktober 2016