Minggu Pekan Prapaskah III, 6 Maret 2021

Kel 20: 1-17 + 1Kor 1: 22-35 + Yoh 2: 13.11-35

 

 

Lectio

Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: "Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku." Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: "Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?" Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: "Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?" Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan mereka pun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, dan karena tidak perlu seorang pun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.

 

Meditatio

Keributan dalam masyarakat seringkali terjadi karena adanya rasa memiliki, sense of belonging dari banyak orang, terlebih bila dikaitkan dengan nilai-nilai religious. 'Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku'. Kata-kata inilah yang sepertinya membakar Yesus, yang dengan mata kepla sendiri melihat dan memandang bait Allah sebagai tempat berjualan. 'Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan', tegur Yesus kepada semua pedagang yang ada di situ.

Mereka berjualan di kompleks bait Allah sebenarnya bermaksud baik pada awalnya, yakni membantu orang-orang yang hendak mempersiapkan kurban persembahan. Namun maksud awali ini tertutup oleh kepentingan masing-masing individu, dan terjadilah aneka transaksi yang luar biasa dan menjadi pasar. Yesus pasti tahu tentang kejahatan yang terjadi pada waktu itu, sehingga menegur keras mereka semua.

Akhirnya apalah artinya rumah ibadat, kalau memang tidak digunakan sebagaimana mestinya. Bukankah bait adalah sarana bagi umat beriman untuk berdoa? Buat apa juga mempertahankan bait Allah dengan mengatakan: 'tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian' kepada Yesus, kalau memang mereka tidak menggunakan rumah ibadat sebagaimana mestinya?

Namun berdasar perisitiwa konkrit ini akahirnya Yesus membuka wacana baru dengan berkata: 'rombak bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali', yang dimaksudkan-Nya dengan bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. Sebab memang doa dan syukur seseorang tidaklah bergantung pada keberadaan tempat dan sarana yang ada, tidaklah harus di Yerusalem ataupun di puncak gunung, tetapi menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh 4).  Dan secara istimewa bagi kita, orang-orang yang beriman, kita berdoa dalam kesatuan dengan Yesus sendiri, yang telah menjadi kurban persembahan hidup, dan mencapai puncaknya dalam kurban Ekaristi. Ekaristi adalah perayaan kurban salib, kurban Paskah, yang dihadirkan secara ritual-sakramental. Dalam Ekaristi kita mendengarkan sabdaNya dan juga makan bersama dalam perjamuan kudus, sebab 'untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah' (1Kor 1: 24). Paskah membaharui kemauan serius kita untuk selalu ambil bagian dalam Paskah mulia.

 

Oratio

Yesus Kristus, Engkau kembali mengingatkan kami akan indahnya perjamuan kudus bersamaMu. Engkau juga mengingatkan kami akan doa-doa, yang kami lambungkan dalam roh dan kebenaran, dan bukannya tempat kami berdoa yang menjadi standard. Semoga kami selalu berkanjang dalam doa, yang secara bersama kami kumandangkan dalam gerejaMu yang kudus. Amin.

 

Contemplatio

'Rombak bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali'.

 







Oremus Inter Nos
Marilah Kita Saling Mendoakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesta Maria mengunjungi Elizabet

Mengenal Karmelit Awam dari dekat (2)

Pesta Santo Simon dan Yudas, 28 Oktober 2016